Hidup itu buat apa sih?
Buat apa Allah menciptakan saya?
Why do I have to be exist in this world? Apa gunanya saya?
Lalu, apa yang harus saya lakukan selama saya hidup di dunia yang katanya hanya sementara ini?
Ini adalah rentetan pertanyaan yang sering saya tanyakan pada diri saya sendiri di kala sendiri, di kala sepi
Apalagi di saat saya merasa dunia hanya ingin menyakiti saya ( oke, ini lebay )
My Follower
Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan
Rabu, 18 Desember 2013
Kamis, 28 Februari 2013
IPK itu ujian mamen!
Ah, akhirnya IPK keluar juga.
:)
Apapun hasilnya harus disyukuri. Bagiku, IPK kecil atau besar itu keduanya merupakan ujian. Mengapa? Kalau IPK besar berarti kita sedang diiuji sama yang namanya ujian kenikmatan. Kalau IPK nya kecil ya kita diuji sama hal yang nggak enak.
Jadi intinye, kalau dapet nilai IPK yang cakep, ga boleh sombong lah ya. Nilai yang besar itu bukan penentu kesuksesan. Nilai yang kurang bagus pun bukan akhir dari segalanya. Nilai itu cuma salah satu indikator kesuksesan dalam belajar. Inget, cuma SALAH SATU! Dan pada kenyataannya, praktek itu lebih penting dari sekedar teori. Tapi, bukan berarti teori itu ga penting loh yaa, catet!
Bukan berarti misalkan kita dapet IPK yang kurang memuaskan terus kita dengan seenaknya bilang bahwa anak anak yang mendapat IPK besar itu hanya mementingkan teori daripada praktek. Kalau saya pribadi, pengen dapetnya ya yang bagus, soalnya buat saya IPK itu semacam bukti tanggung jawab sama orang tua yang udah susah susah ngebiayain kuliah kita. Lha apalagi yang bisa kita kasih? Apalagi mahasiswa fakultas kedokteran pre-klinis seperti saya, kan belum boleh praktek praktek gitu, makanya mengguasai teori itu penting.
Lalu misalkan udah belajar mati matian sampe begadang dan ternyata hasilnya tetep gitu aja, terus kudu piye?
Apapun hasilnya harus disyukuri. Bagiku, IPK kecil atau besar itu keduanya merupakan ujian. Mengapa? Kalau IPK besar berarti kita sedang diiuji sama yang namanya ujian kenikmatan. Kalau IPK nya kecil ya kita diuji sama hal yang nggak enak.
Jadi intinye, kalau dapet nilai IPK yang cakep, ga boleh sombong lah ya. Nilai yang besar itu bukan penentu kesuksesan. Nilai yang kurang bagus pun bukan akhir dari segalanya. Nilai itu cuma salah satu indikator kesuksesan dalam belajar. Inget, cuma SALAH SATU! Dan pada kenyataannya, praktek itu lebih penting dari sekedar teori. Tapi, bukan berarti teori itu ga penting loh yaa, catet!
Bukan berarti misalkan kita dapet IPK yang kurang memuaskan terus kita dengan seenaknya bilang bahwa anak anak yang mendapat IPK besar itu hanya mementingkan teori daripada praktek. Kalau saya pribadi, pengen dapetnya ya yang bagus, soalnya buat saya IPK itu semacam bukti tanggung jawab sama orang tua yang udah susah susah ngebiayain kuliah kita. Lha apalagi yang bisa kita kasih? Apalagi mahasiswa fakultas kedokteran pre-klinis seperti saya, kan belum boleh praktek praktek gitu, makanya mengguasai teori itu penting.
Lalu misalkan udah belajar mati matian sampe begadang dan ternyata hasilnya tetep gitu aja, terus kudu piye?
Sabtu, 06 Oktober 2012
Just Because You're A Medical Student, Doesn't Mean You Can Be Arrogant!
Judulnya ngeriiii. Pagi pagi loo, udah nulis kayak ginian. Jangan salah, ini bukan marah marah, hanya bagian dari muhasabah yang semoga menghindarkan diri kita dari salah arah dan salah kaprah.
Jadi gini ya, menuntut ilmu adalah salah satu perbuatan mulia yang akan bernilai ibadah jika niatnya hanya untuk Allah semata, sama seperti perbuatan lainnya. Namun bila niatnya hanya untuk dunia, semata mata hanya untuk mencari pekerjaan, uang, dan martabat maka perbuatan itu akan sia sia, bahkan Allah pun mengancam bahwa orang yang seperti itu tidak akan mencium bau surga. Na'udzubillah.
Saking tingginya penghargaan dari Allah untuk para penuntut ilmu, Dia pun mengangkat derajat bagi para penuntut ilmu beberapa derajat lebih tinggi daripada mereka yang tidak menuntut ilmu.
Dan ilmu itu sendiri pun bermacam macam dan tidak mungkin bagi satu orang untuk bisa menguasai dengan benar benar seluruh ilmu didunia ini. Saya pikir itu absurd sekali. Maka dari itu ada istilah penjurusan, setiap orang memilih jurusan ilmu yang diminatinya untuk dipelajari lebih dalam supaya apa yang didapat tidak hanya setengah setengah. Kalau zaman sekarang, kuliah kan ada jurusan jurusan tuh, itu dia pengelompokannya. Ada jurusan kedokteran umum, psikologi, pendidikan bahasa Inggris, ekonomi akuntansi dan lain sebagainya. Semuanya sama, semuanya baik! Hanya ilmu yang dipelajarilah yang berbeda, nothing else. Bahkan yang tidak sanggup untuk kuliah tapi tetap mencari ilmu dari jalur tidak formal pun baik. Yang salah itu adalah yang kuliah tapi malah malas malasan atau yang lebih parah lagi yang menggunakan alasan tidak sanggup kuliah untuk berhenti belajar. Ini anggapan yang salah, menuntut ilmu itu harus dilakukan sepanjang hayat, entah itu jalur formal maupun non formal, kita lihat saja contoh ulama terdahulu, dulu kan tidak ada istilah sekolah formal, meskipun begitu mereka tetap mengembara kemana saja dan melakukan banyak usaha agar dapat menuntut ilmu.
Jangan sampai ada perasaan lebih tinggi dan menghina jurusan lain yang "dianggap" lebih rendah. Itu hanya akan menurunkan harga diri kita. Maaf ya, saya bukan bermaksud ghibah, hanya memberi contoh hal yang saya anggap tidak baik dan tidak pantas untuk dilakukan. Semoga yang saya maksud segera sadar. Saya pernah membaca sebuah tweet yang pada intinya merendahkan jurusan agama islam dan menganggap tinggi jurusan kedokteran. Padahal itu dipost di Twitter, jaringan sosial yang bisa dibaca siapa saja, apalagi saya yakin banyak diantara followernya yang merupakan mahasiswa dari fakultas agama Islam. Jujur, dari lubuk hati yang terdalam hati saya sakit, apalagi hati orang orang dari fakultas tersebut yang membacanya.
Belajar agama Islam itu tidak semudah yang dibayangkan bro, agama Islam itu luas, dan harus berhati hati dalam belajar karena jika salah mengambil guru dan dosen bisa bisa jadi liberal, na'udzubillah. Ilmu mushtholahul hadits contohnya, mennurut saya ilmu ini lumayan rumit. Mengelompokkan hadits shohih, dho'if, dan maudhu' bukanlah hal yang mudah, dan insya Allah ilmu ini juga amat sangat bermanfaat bagi ummat. Janganlah definisikan manfaat itu cuma secara fisik saja, contohnya dokter yang mengobati pasien. Bermanfaat bagi ummat itu luas, secara spiritual, emosional, dan finansial juga bisa.
Intinya, mari kita hindarkan sifat merasa lebih tinggi dari yang lain. Mungkin perbedaan itu hanya terdapat di biaya saja, memang biaya untuk kuliah di fakultas kedokteran lebih mahal dari fakultas lainnya. Tapi tunggu dulu, memangnya uang itu uang kita sendiri? Pastinya uang dari orang tua kita, lagipula semua hanya bisa kita dapat min fadhli Rabbina, hanya dari kemurahan Tuhan kita. Lagipula bayangkan saja jika semua orang didunia ini menjadi dokter, lha siapa yang mau design bangunan? Siapa yang mau ngajar SMP? Siapa yang mau jadi polisi? Semoga tulisan ini bermanfaat.
Ushikum wa iyyaya nafsi, WALLAHU A'LAM BISHSHAWAB
Jadi gini ya, menuntut ilmu adalah salah satu perbuatan mulia yang akan bernilai ibadah jika niatnya hanya untuk Allah semata, sama seperti perbuatan lainnya. Namun bila niatnya hanya untuk dunia, semata mata hanya untuk mencari pekerjaan, uang, dan martabat maka perbuatan itu akan sia sia, bahkan Allah pun mengancam bahwa orang yang seperti itu tidak akan mencium bau surga. Na'udzubillah.
Saking tingginya penghargaan dari Allah untuk para penuntut ilmu, Dia pun mengangkat derajat bagi para penuntut ilmu beberapa derajat lebih tinggi daripada mereka yang tidak menuntut ilmu.
Dan ilmu itu sendiri pun bermacam macam dan tidak mungkin bagi satu orang untuk bisa menguasai dengan benar benar seluruh ilmu didunia ini. Saya pikir itu absurd sekali. Maka dari itu ada istilah penjurusan, setiap orang memilih jurusan ilmu yang diminatinya untuk dipelajari lebih dalam supaya apa yang didapat tidak hanya setengah setengah. Kalau zaman sekarang, kuliah kan ada jurusan jurusan tuh, itu dia pengelompokannya. Ada jurusan kedokteran umum, psikologi, pendidikan bahasa Inggris, ekonomi akuntansi dan lain sebagainya. Semuanya sama, semuanya baik! Hanya ilmu yang dipelajarilah yang berbeda, nothing else. Bahkan yang tidak sanggup untuk kuliah tapi tetap mencari ilmu dari jalur tidak formal pun baik. Yang salah itu adalah yang kuliah tapi malah malas malasan atau yang lebih parah lagi yang menggunakan alasan tidak sanggup kuliah untuk berhenti belajar. Ini anggapan yang salah, menuntut ilmu itu harus dilakukan sepanjang hayat, entah itu jalur formal maupun non formal, kita lihat saja contoh ulama terdahulu, dulu kan tidak ada istilah sekolah formal, meskipun begitu mereka tetap mengembara kemana saja dan melakukan banyak usaha agar dapat menuntut ilmu.
Jangan sampai ada perasaan lebih tinggi dan menghina jurusan lain yang "dianggap" lebih rendah. Itu hanya akan menurunkan harga diri kita. Maaf ya, saya bukan bermaksud ghibah, hanya memberi contoh hal yang saya anggap tidak baik dan tidak pantas untuk dilakukan. Semoga yang saya maksud segera sadar. Saya pernah membaca sebuah tweet yang pada intinya merendahkan jurusan agama islam dan menganggap tinggi jurusan kedokteran. Padahal itu dipost di Twitter, jaringan sosial yang bisa dibaca siapa saja, apalagi saya yakin banyak diantara followernya yang merupakan mahasiswa dari fakultas agama Islam. Jujur, dari lubuk hati yang terdalam hati saya sakit, apalagi hati orang orang dari fakultas tersebut yang membacanya.
Belajar agama Islam itu tidak semudah yang dibayangkan bro, agama Islam itu luas, dan harus berhati hati dalam belajar karena jika salah mengambil guru dan dosen bisa bisa jadi liberal, na'udzubillah. Ilmu mushtholahul hadits contohnya, mennurut saya ilmu ini lumayan rumit. Mengelompokkan hadits shohih, dho'if, dan maudhu' bukanlah hal yang mudah, dan insya Allah ilmu ini juga amat sangat bermanfaat bagi ummat. Janganlah definisikan manfaat itu cuma secara fisik saja, contohnya dokter yang mengobati pasien. Bermanfaat bagi ummat itu luas, secara spiritual, emosional, dan finansial juga bisa.
Intinya, mari kita hindarkan sifat merasa lebih tinggi dari yang lain. Mungkin perbedaan itu hanya terdapat di biaya saja, memang biaya untuk kuliah di fakultas kedokteran lebih mahal dari fakultas lainnya. Tapi tunggu dulu, memangnya uang itu uang kita sendiri? Pastinya uang dari orang tua kita, lagipula semua hanya bisa kita dapat min fadhli Rabbina, hanya dari kemurahan Tuhan kita. Lagipula bayangkan saja jika semua orang didunia ini menjadi dokter, lha siapa yang mau design bangunan? Siapa yang mau ngajar SMP? Siapa yang mau jadi polisi? Semoga tulisan ini bermanfaat.
Ushikum wa iyyaya nafsi, WALLAHU A'LAM BISHSHAWAB
Jumat, 06 Juli 2012
Keterpaksaan Berbuah Kesyukuran
Selama ini saya mendengar banyak ucapan seperti ini, "ihh, ngapain sih aku dipakasa pake kerudung? Sama aja kalau aku terpaksa bukan dari hati!" Hem, saya merasa ada yan salah dengan ucapan ini, kemudian saya berfikir, apa yang salah dengan pemaksaan dalam kebaikan ( apalagi menutup aurat adalah harga mati ) ? Terus apalanya yang salah kalau seperti itu? Tentu saja yang merasa terpaksa, mengapa dalam melakukan kebaikan harus merasa terpaksa? Bukankah melakukan kebaikan itu untuk kebaikan dirinya sendiri nanti? Justru saya pikir, orang yang memaksa dalam kebaikan itu adalah orang yang sangat sayang padanya karena dia tidak ingin orang yang disayanginya jatuh kedalam limbah kenistaan. Bukankah itu bagus? Dan sayang itu menurut saya bukan hanya seseorang yang setia menemani tapi juga dia yang berani menuntun ke jalan yang lurus, meskipun itu melukai hati orang yang disayang.
Lagipula, terpaksa dalam kebaikan itu jauh lebih baik daripada ikhlas dalam melakukan kejahatan. Siapa tahu, pada awalnya merasa terpaksa, tapi karena itu adalah kebaikan maka Allah memberikan hidayahNya dan pada akhirnya menjadi ikhlas dalam melakukan kebaikan itu, who knows? Pada akhirnya, kita nanti akan menyadari bahwa keterpaksaan dalam kebaikan itu akan berbuah sebuah kesyukuran.
Dan lagi, saya pernah membaca tweet dari seorang aktivis JIL bahwwa ketaatan pada ajaran agama tidak boleh dipaksakan melalui aparat negara, agama harus dlakukan secara sukarela, tak ada paksaan dalam agama katanya, nah lo! Kalau konsep La ikroha fiddin dalam al-quran itu ditujukan pada pemeluk agama selain Islam, jadi tidak ada keterpaksaan dalam masuk agama Islam seperti juga lakum dinukum waliya din. Tapi, ketika seseorang telah menjadi seorang muslim, maka konsekuensinya adalah dia harus taat dengan semua hukum Islam, terpaksa atau tidak itu adalah sebuah pilihan, akan lebih baik jika menjalankannya dengan sukarela dan ikhlas. Lha wong sebagai warga negara saja harus taat pada hukum negara, bukankah itu sebuah keterpaksaan juga? Kalau tidak taat maka konsekuensinya akan mendapat hukuman sesuai dengan peraturan negara tersebut, iya kan? Apalagi ini masalah agama, masalah aqidah, maka harus patuh dan taat, jika tidak maka akan mendapat konsekuensi di akhirat nanti. Lebih baik mana, terpaksa dalam kebaikan dan kemudian nanti jadi ikhlas, atau berbuat jahat dengan suka cita tapi dapat azab yang pedih diakhirat nanti? Rasulullah juga mengajarkan pemaksaan dalam kebaikan, untuk anak berumur 7 btahun yang belum mau solat maka boleh saja dipukul, tapi semuanya demi kebaikan sang anak sendiri. Bayangkan saja dengan anak yang waktu kecil tidak pernah dipaksa solat, seandainya hidayah Allah tidak datang maka dia tidak akan pernah kenal dengan solat. Bukankah itu mengerikan?
Jadi konklusinya, salahkah dengan pemaksaan dalam kebaikan? Jikalau ada yang merasa terpaksa, maka tanyalah pada diri masing-masing, pastilah ada sesuatu yang salah, karena berbuat kebaikan adalah fitrah dari manusia. Karena pada dasarnya, tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah pada Allah. Wallahu a'lam bishshawab.
Lagipula, terpaksa dalam kebaikan itu jauh lebih baik daripada ikhlas dalam melakukan kejahatan. Siapa tahu, pada awalnya merasa terpaksa, tapi karena itu adalah kebaikan maka Allah memberikan hidayahNya dan pada akhirnya menjadi ikhlas dalam melakukan kebaikan itu, who knows? Pada akhirnya, kita nanti akan menyadari bahwa keterpaksaan dalam kebaikan itu akan berbuah sebuah kesyukuran.
Dan lagi, saya pernah membaca tweet dari seorang aktivis JIL bahwwa ketaatan pada ajaran agama tidak boleh dipaksakan melalui aparat negara, agama harus dlakukan secara sukarela, tak ada paksaan dalam agama katanya, nah lo! Kalau konsep La ikroha fiddin dalam al-quran itu ditujukan pada pemeluk agama selain Islam, jadi tidak ada keterpaksaan dalam masuk agama Islam seperti juga lakum dinukum waliya din. Tapi, ketika seseorang telah menjadi seorang muslim, maka konsekuensinya adalah dia harus taat dengan semua hukum Islam, terpaksa atau tidak itu adalah sebuah pilihan, akan lebih baik jika menjalankannya dengan sukarela dan ikhlas. Lha wong sebagai warga negara saja harus taat pada hukum negara, bukankah itu sebuah keterpaksaan juga? Kalau tidak taat maka konsekuensinya akan mendapat hukuman sesuai dengan peraturan negara tersebut, iya kan? Apalagi ini masalah agama, masalah aqidah, maka harus patuh dan taat, jika tidak maka akan mendapat konsekuensi di akhirat nanti. Lebih baik mana, terpaksa dalam kebaikan dan kemudian nanti jadi ikhlas, atau berbuat jahat dengan suka cita tapi dapat azab yang pedih diakhirat nanti? Rasulullah juga mengajarkan pemaksaan dalam kebaikan, untuk anak berumur 7 btahun yang belum mau solat maka boleh saja dipukul, tapi semuanya demi kebaikan sang anak sendiri. Bayangkan saja dengan anak yang waktu kecil tidak pernah dipaksa solat, seandainya hidayah Allah tidak datang maka dia tidak akan pernah kenal dengan solat. Bukankah itu mengerikan?
Jadi konklusinya, salahkah dengan pemaksaan dalam kebaikan? Jikalau ada yang merasa terpaksa, maka tanyalah pada diri masing-masing, pastilah ada sesuatu yang salah, karena berbuat kebaikan adalah fitrah dari manusia. Karena pada dasarnya, tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah pada Allah. Wallahu a'lam bishshawab.
Rabu, 27 Juni 2012
Buat apa sih Kuliah? | #jangankuliah
Artikel dibawah ini ditulis oleh @udayusuf, karena aku ngerasa cocok banget sama artikel in dan pas banget sama keadaan aku dan sebagian temanku saat ini, maka aku share diblog ini. Sebenarnya kuliah itu buat apa sih? Buat nggaya doang? Nyari ijazah buat nyari kerja? Nggak cuma itu, arti kuliah itu lebih dari itu! Silahkan dibaca ya, smoga bermanfaat!
Selamat kamu sudah jadi mahasiswa, lalu kenapa?
Memang apa sih kerennya jadi mahasiswa? Kamu pikir kamu keren kalau jadi mahasiswa? Dengan jas almamater yang heroik kamu jadi bisa kembali ke sekolah kamu dan berkata, “saya sekarang mahasiswa UNAIR loh” atau “ini nih lihat jaket kuning UI gw”.Okey, itu memang salah satu bagian menyenangkan yang bisa dibanggakan, tapi kalo udah bangga, kamu mau apa? Apa yang kamu dapatkan dari kebanggaan tersebut?
‘seneng aja’
‘kepuasaan batin’
‘yah keren aja sih’
Ada lagi kah ?Kamu udah yakin dengan pilihan jurusan dan kampus kamu? Sudah sesuai dengan panggilan jiwa belum? Atau kamui masih bohong sama diri kamu?
‘iya saya sudah yakin kok sama pilihan saya’
‘ah masa sih?, yakin? Itu kok muka masih belum pede tampaknya’
‘ya dibuat yakin dong, kan sudah keterima’
‘bener nih gak nyesel?’
‘emang ada pilihan lain kah?’
Kamu sudah jadi mahasiswa nih sekarang, lalu kamu mau jadikan titel kamu nanti untuk apa? Mau dijadikan apa titel yang kamu raih?Sobat, kata rektor saya dulu, biaya standar untuk seorang sarjana teknik adalah Rp.28.000.000 setiap semesternya. Jumlah yang yang gak kecil loh, coba saya tanya berapa biaya kuliah? Dulu saya di Itb 1.850.000 per semesternya. Kabarnya sekarang sudah mencapai hingga 5 juta rupiah per semesternya. Okelah kita pakai standar sekarang saja, dan dengan asumsi biaya sarjananya tetap.
Dengan asumsi ini saja saya bisa mengatakan kalau dalam satu semester, minimal kita sudah memiliki hutang 23 juta per semesternya. Hutang? Pasti banyak yang bertanya, itu hutang ke siapa? Hutangnya ke Rakyat Indonesia kawan. Mereka yang bayar pajak itu telah mensubsidi kuliah kamu, khususnya buat kamu yang kuliah di kampus negeri.
Pendidikan yang berkualitas itu hakekatnya memang mahal, pertanyaannya siapa yang akan menanggung biaya pendidikan tersebut? Dalam kasus Indonesia, rakyatlah yang juga dibebankan untuk membiayai kuliah kita.
Saat pertama kali masuk ITB beberapa tahun yang lalu, seorang alumni yang sangat senior berbicara dalam sebuah sesi seminar.
“untuk masuk ITB, perbandingan tingkat kompetisinya adalah 1 banding 20. Artinya ketika kamu bahagia karena telah masuk ITB, ada 19 anak muda Indonesia lain yang menangis kecewa karena gagal diterima di ITB.
Kamu kuliah di subsidi oleh rakyat, maka untuk membalas budi pengorbanan uang yang telah rakyat berikan, kamu minimal harus bisa kasih makan ke 76 orang lainnya. Darimana angka 76 tersebut?
Kita asumsikan 19 orang tersebut menikah dan memiliki dua anak saja, maka itu berarti 19 dikali 4 yaitu 76 orang”
Kata-kata tersebut selalu terngiang di benak saya hingga saat ini, saya selalu berpikir dan mencari jalan bagaimana bisa membuka kesempatan menambah penghasilan bagi 76 orang. Tentu bukan hanya dengan membuka lapangan kerja dengan menjadi entrepreneur, banyak cara untuk bisa berbagi seperti dengan aktivitas sosial.
Bagaimanapun caranya, itulah yang perlu kita sama-sama pikirkan. Bahwa kamu jadi mahasiswa itu tidak mudah dan tidak bisa asal-asalan. Kamu perlu tanya ke diri kamu, “saya mau berkontribusi apa selama jadi mahasiswa dan setelah lulus untuk negeri ini?
Karena kuliah kamu bukan hanya menyangkut diri kamu, tetapi juga ratusan juta rakyat Indonesia di masa kini dan masa depan. Mahasiswa seringkali disebut sebagai unsur perbaikan negara, ya benar adanya kalimat tersebut. Karena ditangan mahasiswa yang nantinya akan masuk ke dunia nyata lah negeri ini bergantung harapan.
Kamu kuliah, kamu termasuk dalam 18% rakyat Indonesia usia 18-23 tahun yang beruntung bisa menikmati bangku di perguruan tinggi. Jumlahnya tidak sampai 4.5 juta saja mahasiswa itu. Maka renungkanlah nasih 78% rakyat Indonesia lainnya yang
Karena kamu itu mahasiswa, ada kata MAHA di depan siswa. Maha itu identik dengan tidak terbatas dan tidak pernah habis. Perlu di ingat, bahwa penggunaan kata MAHA itu identik dengan sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan (e.g Maha Pengasih,dan Maha Penyayang). Menariknya bahasa Inggris nya dari Mahasiswa adalah student, atau terkadang ditambahkan College Student. Bahasa arabnya mahasiswa adalah thulabiy, sama dengan siswa. Mereka tidak menggunakan terminologi Great Student atau AkbaruThulabiy sebagai kata ganti mahasiswa.
Hanya di Indonesia yang menggunakan pola kata seperti ini. Kenapa? Karena ada sebuah harapan khusus bagi mahasiswa Indonesia untuk bisa memiliki karakter seorang MahaSiswa, seorang yang tidak pernah terbatas hasratnya untuk bisa menuntut ilmu.
Dalam sebuah lirik lagu perjuangan kampus yang berjudul “Kampusku”, sang pengubah lagu menuliskan seperti ini;
Berjuta Rakyat Menanti Tanganmu
Mereka Lapar dan Bau Keringat
Kusampaikan Salam Salam Perjuangan
Kami Semua Cinta Indonesia
Tapi kamu juga jangan terlalu Geer dulu dengan segala sanjungan untuk mahasiswa, itu gak sekeren itu kok, kadang malah cuma klise belaka. Saya malah berpikir terlalu banyak pujian untuk seorang yang menyandang label mahasiswa. Padahal jadi mahasiswa gak sekeren itu kok, apa sih mahasiswa? Belajar males, kajian kebangsaan cuek, demo di jalan gak mau, kegiatan pengembangan masyarakat juga gak peduli, bahkan fokus pada kompetensinya saja juga enggan.Apa sih mahasiswa itu? Cuma mampu mejeng dengan tampang keren, sok bawa mobil ke kampus padahal uang orang tua. Bergaya sana sini, ganti pacar tiap bulan, gak nyimak dosen di kelas, ke kampus dandannya udah seperti mau ke resepsi pernikahan.
Ngapain sih tuh mahasiswa? Selama empat tahun di kampus akhirnya gak aplikasi ilmunya, berpikir gimana ngasih makan dirinya saja, lupa kalau dia di bayarin rakyat saat kuliah, jadi manusia hedon yang lupa kalau masih banyak rakyat yang lapar dan bau keringat.
Ah mahasiswa, apa pentingnya? Cuma bisa kritik keadaan negeri tanpa mau berpikir apa yang bisa ia lakukan untuk negerinya. Hanya ribut diantara mahasiswa, bakar ban dan akhirnya rakyat lagi yang kembali menderita.
HEI KAMU YANG MENGAKU MAHASISWA !
Coba sekarang saya tanya buat kamu yang mau lulus kuliah, buat apa sih kamu kuliah? Abis kuliah mau kemana?
‘ikutin aja kemana angin membawa’
‘yah kita lihat nantilah gimana abis wisuda’
‘mau kerja dulu deh, sambil mikir mau ngapain setelahnya’
Umm. Okey, tidak ada yang salah dengan kalimat-kalimat tersebut. Tetapi kalimat-kalimat ini menandakan masih banyak diantara mahasiswa dan alumni muda yang bahkan tidak tau mau ngapain setelah lulus.
Helloooo
Dimana #panggilanjiwa kamu kawan? Masih belum berjumpakah dengan #panggilanjiwa kamu itu? Atau bahkan kamu tidak berusaha mencarinya?
Sobat,apakah dunia kampus belum cukup untuk kamu dalam mem-#bangunmimpi? Butuh berapa lama lagi untuk kamu agar bisa menemukan dan merencanakan mimpi besar kamu sobat? Atau jangan jangan kamu lebih nyaman dalam ketidakpastian mimpi kamu?
Mereka yang tidak punya mimpi akan terjebak pada kegalauan hidup, dan bila kegalauan hidup menemani mereka maka ketidakpastian akan menjadi sahabat, dan akhirnya berujung pada ketidakjelasan manfaat hidup itu sendiri.
APA KONTRIBUSI KAMU UNTUK NEGERI?
Percuma saja kamu kuliah kalau ternyata pilihan jurusannya bukan yang kamu minati, bohong dengan #panggilanjiwa hanya untuk mengejar titel di kampus negeri saja. Hidup itu bukan sekedar titel kamu di dapat dimana, tetapi kamu mau berbuat apa dengan titel tersebut untuk kebaikan dan kebermanfaatan.
Kamu pikir jadi alumni dari kampus beken itu terjamin masa depannya kawan? Saya justru banyak kenal teman, senior, dan junior saya di kampus yang luntang-luntung gak jelas karena penuh kegalauan dalam menatap masa depan. Mereka tidak membangun karakter diri selama jadi mahasiswa. Akibatnya? Hidup segan, Mati enggan.
Lantas, apa yang bisa dibanggakan ketika setelah lulus hanya menjadi sekrup kapitalis yang menghambakan diri pada uang dan rela ketika sumber daya negeri ini dikeruk untuk kepentingan asing semata. Apa kalian lupa kalau kalian kuliah disubsidi oleh negara? Uang rakyat itu kawan? Hasil pajak mereka yang berharap negeri ini lebih baik.
Buat saya, percuma belajar mati-matian masuk perguruan tinggi kalau ujung-ujungnya hanya memetingkan isi perut belaka dan tidak mampu berkontribusi untuk bangsa. Sayang banget kawan, bila 4-5 atau bahkan 6 tahun kuliah pada akhirnya hanya menjadi perusak negeri, yang serakah atas kebutuhan dunia.
Atau lebih sadis lagi mereka para koruptor yang menghabiskan hidup untuk merusak moral sosial bangsa. Seharusnya mereka mereka inilah yang di klaim oleh Malaysia bukan budaya Indonesia.
Rakyat negeri ini membiayai kamu kuliah bukan hanya untuk mendapatkan IPK Cum Laude atau terancam Cum Laude. Yakin nih yang IPK nya 4.00 itu benar-benar cerdas? Jangan-jangan mereka cuma seorang robot yang jago menyelesaikan soal ujian, tetapi gamang dalam menghadapi soal kehidupan.
Kamu kuliah di kampus teknik, jadilah teknokrat yang visioner. Kuliah di fakultas hukum, jadilah advokat yang adil. Belajar di jurusan ekonomi, maka jadilah ekonom yang bijak. Atau bila kamu kuliah di kampus pertanian, bangunlah negeri ini dengan ilmu pertanian yang kamu miliki, jangan mangkir dari kompetensi dan malah berpikir untuk menjadi bankir.
Kuliah itu mahal kawan, setau saya di UI sudah Rp.25.000.000, di ITB bahkan ada yang mencapai Rp.50.000.000. Biaya per semester juga sudah semakin besar, lalu apa yang kamu cari setelah lulus? Hanya bekerja sebagai pegawai kah pilihan hidup kamu?
Masih banyak anak muda Indonesia yang tidak kuliah. Atau alumni kampus yang katanya beken dan akhirnya memilih untuk bersaing dalam job fair dengan alumni kampus yang katanya ga beken? Gak malu ya sobat?
Yuk kita berpikir #beda , jangan berpikir “mau kerja di perusahaan apa”, melainkan “mau buka lapangan kerja dimana ya”
Saya sering bilang ke mahasiswa ITB, buat apa kamu bangga masuk ITB kalau hanya bisa jadi mahasiswa KUPU KUPU alias kuliah pulang kuliah pulang. Mending kamu sekalian aja pulang ke rumah orang tua kamu. Karena kita kuliah bukan hanya untuk mengejar nilai, kita kuliah untuk menikmati proses pembelajaran diri dalam setiap kesempatan.
Malu lah pakai jaket kuning UI yang katanya keren itu kalau gak peka sama isu sosial masyarakat, hanya mengenal kuliah-kafe-mall saja. Helloo kawan, itu jaket kuning lambang perjuangan, apa kontribusi kamu untuk negara. Kalau kamu sudah berkontribusi untuk negeri, barulah boleh sedikit bangga dengan jaket kuning kamu sobat!
Atau mahasiswa UGM yang terkenal dengan jaket warna karun goni, itu warna kerakyatan, maka segen saya lihat mahasiswa UGM kalau melihat dan memikirkan realita rakyat aja gak mau. Jaket mu itu bukti pengorbanan sobat!
Malu lah gw jadi mahasiswa kalau sepanjang masa kuliahnya gak pernah demo di jalan
Ah capeklah kuliah itu kalau hanya mengejar Nilai tetapi anti sosial, menjadi manusia robot yang bangga jadi sekrup kapitalis.Buat kamu yang baru lulus SNMPTN atau segala bentuk ujian masuk perguruan tinggi lainnya. Berani janji kontribusi apa selama jadi mahasiswa? Atau udah cukup bangga dengan label mahasiswa?
Masuk jurusan kedokteran kampus beken, tetapi gak mau praktek di daerah terpencil, hanya mau jadi dokter di kota. Hmm percuma deh, di kota di daerah daerah aja masih kekurangan dokter, di kota dokter menumpuk. Hmm mendingan mundur deh.
Ayolah kawan! Kita MAHAsiswa, ada kata Maha di depan siswa, masa masih sama sama aja konsep berpikirnya dengan mereka yang tidak sekolah. Malu la kita sama tukang bakso yang bisa punya 3 pegawai, mereka yang tidak kuliah aja bisa ngasih makan orang lain, lah mahasiswa? Bangun Idealisme itu kawan, sejak mahasiswa, kesempatan terakhir untuk membangun idealisme itu ada di kampus. Setelah lulus, kalian akan menikmati dunia nyata yang sangat kejam dan pragmatis.
Hidup itu bukan hanya tentang duit, duit, dan DUIT.
Mahasiswa itu #beda!
Yuk kita bangun konsep berpikir yang dewasa. Jangan bangga ke kampus pakai mobil orang tua untuk mejeng sana sini dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar, manja dalam belajar serta lemah karakter. Percuma nanti di hari wisuda, para alumni itu hanya menambah daftar pengangguran negeri ini, buat apa kamu kuliah sobat?
Sobat, mari kita maknai dengan #bijak kenapa kita harus kuliah. Ini bukan hanya sekedar mengikuti kebiasaan banyak orang. Tetapi ini tentang upaya membuat diri kita lebih mampu berkontribusi untuk pembangunan bangsa.
Sobat, kamu mau berkontribusi apa selama kuliah?
“Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”
-Ki Hajar Dewantara-
Langganan:
Postingan (Atom)